Skip to main content

Posts

Inilah Tradisi Ratusan Tahun Keraton Yogyakarta yang Masih Dilestarikan

"Boy, mau ikut lihat tradisi Kraton nggak?" kata teman yang umurnya terpaut jauh dari saya. Tidak ada pilihan lain, selain kata "Iya".
Selepas maghrib berlalu, saya pun beranjak mengikuti ajakannya. Difikiran saya, paling itu hanya tradisi yang ada beberapa kali sepanjang tahun, seperti grebeg gunungan Keraton dan sudah sering saya ikuti. Setiba kami dihalaman Bangsal Ponconiti, Keben Keraton, ternyata acaranya belum dimulai. Setelah mencari informasi sana-sini, acara tradisi tersebut dimulai hampir larut malam. Saking penasarannya, selarut apapun harus saya ikuti.
Tambah larut, masyarakat dan abdi dalem Keraton mulai memadati halaman ponconiti. Kurang lebih pukul 20.00 WIB, kegiatan tersebut berangsur-angsur dimulai dengan diawali ritual do'a bersama.
Ternyata, tradisi yang dimaksud teman saya adalah perayaan malam 1 Suro (dalam penanggalan Jawa). Sebuah tradisi dalam menyambut awal tahun penanggalan Jawa yang telah ada semenjak Sultan Hamengkubuwono II (kala…
Recent posts

Melihat Jembatan Edukasi, Sebuah Taman Literasi Jebolan Desa Siluk

Ada sebuah pribahasa mengatakan "Jangan tunggu orang lain untuk memulai, jika menjadi pencetus itu sebagai awal untuk memulai".
Pernah dengar pribahasanya? Jika tidak, santai saja. Itu pribahasa yang baru saya buat beberapa detik lalu sebelum memulai tulisan ini. Sudah saya fikirkan mateng-mateng tentang kata-kata itu. Kalau tidak nyambung, harap maklum.
Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke sebuah desa yang terletak di Kabupaten Bantul. Saya sangat mengagumi masyarakat yang memiliki kreatifitas dan inisiatif untuk memulai atau menjadi pencetus sebuah ide yang mendatangkan banyak manfaat bagi yang lainnya.
"Sebaik-baiknya manusia itu yang baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi yang lainnya"
Pernah dengar pribahasa diatas? Jika tidak, anda sungguh terlalu. Saya sering mendengar pribahasa itu, dan berusaha menjadikan sebagai pegangan hidup. Jadi itu bukan pribahasa ngawur seperti diawal tadi.
Kenapa saya menarik pribahasa kedua sebagai pegangan hidup? Ka…

Naik Vespa dari Italia, Si Doi: "Ini baru namanya Lakiiik"

Siapa yang menyangka, pria berumur 30 tahun, jauh-jauh dari Italia mengendarai Vespa tua kisaran keluaran tahun 1982. Dari Italia mameeeenn... Jauuuhh... Bahkan keluar dari pekerjaanya hanya ingin naik Vespa muteri negara-negara Eropa, Asia dan Autralia.
Namanya Fabio Salini, asli produk Italia, hidungnya juga mancung banget, saking mancungnya banyak cewek-cewek pada ngantri pingin foto, nggak ketinggalan juga si doi mau foto. Sudah ane bilangin "Foto ama babang ngguanteng Rx-King aja, sama juga produksi luar, Arab mameeeeenn..."
Oke, kita tinggalin si doi yang masih kesemsem ama tuh bule Italia. Biarin aja dia berinofasi semaunya. Alkisah menceritakan...
Kedatangan si bule Italia ke Indonesia tidak lain hanya ingin mengikuti event Vespa yang diselenggarakan oleh komunitas Vespa di Indonesia. Pertama, Asian Vespa Days yang bertempat di Yogyakarta. Kedua, Indonesian Skuter Festival yang diadakan di Bali. Ya namanya juga para pecinta, mau kemanapun diladenin.
Sebenarnya tujuan…

Sebelum Terlanjur, Mari Kita Rapatkan Barisan

Yogyakarta, siapa yang tidak tahu dengan Kota yang memiliki julukan sebagai Kota Gudeg? Sebuah Provinsi kecil yang berada ditengah-tengah Pulau Jawa. Yang tidak memiliki luas yang sangat besar, melainkan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan kota-kota bahkan Provinsi yang berada di Indonesia.
Berbicara mengenai Yogyakarta. Saya pernah mendengar ungkapan "Kalau mau menghancurkan bangsa Indonesia, maka cukup hancurkan Yogyakarta". Kenapa ada ungkapan seperti itu? Bisa saja, itu kan perspektif masing-masing, kita hormati.
Akan tetapi, jika difikir lagi, pemikiran itu tidak bisa kita salahkan sepenuhnya. Pasalnya, Kota Yogyakarta juga dikenal sebagai kotanya para pencari ilmu atau julukan Kota Pelajar. Yang mana, ratusan ribu bahkan jutaan generasi penerus bangsa keluar-masuk ke Yogyakarta untuk mengenyam pendidikan. 
Ungkapan itu pula bukan hanya isapan jempol semata, satu contoh. Yogyakarta saat ini berada dalam urutan 10 besar dari beberapa kota-kota lainnya di Indon…

Bukan Masalah Harga Tapi Kenangan

Semenjak belum mendudukkan pantat dibangku perkuliahan, keinginan berat untuk memiliki motor Rx-King telah terbersit dibenak. Bagaimana tidak, motor pria yang digadang-gadang sebagai motor 'laki banget' banyak di idam-idamkan oleh kawula pria muda maupun tua untuk dijajalkan dijalanan.
Terlebih, motor Abah dirumah dulunya ya King, belajarnya ya di King plus Econos 100. Ya gitulah, motornya udah ditelan bumi.
Ketika menginjak semester kedua dibangku kuliah, keinginan itu pun mulai terwujud. Motor keluaran tahun 2004 berwarna hijau pekat akhirnya kesampaian juga memilikinya, "Ah, inginnya dimodif" Hati senang bagaikan lagu ciptaan Ibu Sud, "Tuk Tik Tak Tik Tuk Tik Tak suara sepatu kuda". Kalau ngga tau lagunya mending balik lagi ke SD gih!
Memiliki motor yang sudah tidak dilahirkan lagi memang memiliki kekhawatiran tersendiri, bagaimana tidak, kalau motor yang masih dilahirin spare part nya masih banyak dan mudah ditemui. Lah, kalau motornya sudah tua dan ng…

Kekucah Seorang Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta

Yogyakarta - Beberapa waktu lalu ane sempetin berkunjung ke Bangsal Kagungan Dalem Magangan yang berada didalam lingkup Keraton Ngayogyakarta, ya walaupun hanya lihat dari luar. 
Melihat ribuan abdi dalem sedang menerima Kekucah atau biasa disebut gaji seorang abdi dalem.
Para abdi dalem tersebut menerima kekucah dari alokasi Dana Keistimewaan (Danais) Yogyakarta setiap empat bulan sekali. 
Dengan menggunakan pakaian lengkap adat jawa, para abdi dalem duduk bersila rapih sambil menunggu giliran membubuhkan tanda tangan sebagai bukti jika mereka telah menerima kekucah.
Ane sempat bertemu dengan salah seorang abdi dalem yang tergabung dalam Kridomarduwo. 
Ia sempat menceritakan perihal para abdi dalem tersebut berkumpul di Bangsal Kagungan Dalem Magangan. Bahwa kekucah yang diterima waktu itu berbeda dengan kekucah dari Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengkubuwono X) setiap bulannya.
Ia menceritakan bahwa jumlah abdi dalem saat ini sudah mencapai sekitar 3 ribuan orang. Peningkatan jumlah te…

Merdeka Bangsa Kali Code

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Mungkin itu kata pertama yang dilontarkan oleh pejuang ketika menaklukkan pendudukan negara Jepang kepada bangsa Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, ikrar sakral yang dilontarkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta ketika merayakannya dengan tegaknya tiang dan kibaran kemenangan resmi bendera merah putih untuk kejayaan Indonesia.
Apa hal jika waktu itu Indonesia belum merdeka? Apakah hari ini kita bisa merasakan indahnya hidup di Indonesia? Apakah kita bisa merasakan keberagaman budaya? Mungkinkah anak-anak bangsa saat ini bisa leyeh-leyeh seperti sekarang? Alhamdulillah, kita merdeka... Untung saja ya...
Yogyakarta. Ada satu kampung diantara kampung-kampung lainnya yang berada di Kota yang sangat istimewa ini. Masyarakat bantaran Kali Code, begitu sapaan akrab mereka oleh khalayak ramai. Salah satu daerah yang memiliki saksi bisu perjuangan penjajah yang dikenang dengan peristiwa Kotabaru.
Hari Kamis tanggal 17 Agustus 2017, mereka juga memeriahkan k…